Tampilkan postingan dengan label working artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label working artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2010

Help! I'm Bored With My Work

Have you ever felt jealous of the new employee? Of course not envy the salary or responsibilities, but those who envied his enthusiasm enthusiasm in doing their job. Every form of work charged to them being treated like a new thing that requires skill and a great curiosity.

While you already worked longer, the face of every working day is a great scourge of that boring. Once you accomplish routine tasks, no more things can be done. Then the boredom started to appear.

Do not let this drag on. Let it go without taking any action will affect your work productivity and performance. Some simple things that can help you kill the boredom in the workplace are as follows:

By creating a new creative challenge. If the target has been successfully carried out your work today, instead of blank staring at the needle-needle hopes to move faster, try to think of another way to complete your job. Write down your plan and do not be afraid to improvise. Set personal goals larger than that already established by the company for you. Do not wait for a job that provides excitement, but create excitement and challenges in your work.

  • Declutter desk. Clean and tidy your desk. Get rid of items no longer useful. Collect used paper and reuse for copy paper or memo. In addition to creating concentrations often fragmented, too many items that are not obvious usefulness in the table also affects the mood for work. To be aware of is that you've completed your task before straightening your desk.
  • URLs job as a game. For example, suppose you have a database of employees in the recapitulation is the enemy of the Mafia War or you're fighting with a boss who continue to 'strafe' you with 'bullets' alias work.
  • Add knowledge. Not necessarily in the areas related to employment, but any field of interest and benefit later. The Internet is an infinite source of knowledge. You only need to be careful with the competence to select the source that can be trusted
  • Sharpen skills, both hard and soft skills. Challenge yourself to master the field that helps your work. Of course you have to do it yourself or self-taught. For example practice using the various features in Adobe In Design, crank the various widgets, or anything that could improve your job skills.
  • Organize your files. When things started to dull, try to see the data is already stored in the computer for so long. Classify each file in each category for easy searching later. Delete files that are old and not used anymore. Back up important data. Orderly arrangement of data will help you perform your job. Besides cleaning up, something will give you a sense of accomplishment that your spirit and mood improved again.
  • Clean your inbox. Start a new fresh start. Reply or email response, delete old mail or put in a temporary folder. If you reach the inboxes of thousands, put it all in the temporary folder.
  • Relax your muscles. Wake up from your chair and walk to your blood circulation after so many hours of sitting. If necessary, do squats, push ups or sit-ups. Do it indoors if you're embarrassed to be seen coworkers. You can exit the office for a while, seeing the natural scenery or something different than your office desk and walls.
  • Listen to music. Collection of songs that can make you excited and make your mood better and the performance increases every time you hear it.

Job Info , Jobs , Career

Bookmark and Share


Selasa, 06 Juli 2010

Boss, Apakah Rapat Yang Anda Pimpin Sudah Efektif?

Boss, Anda pasti sudah pernah memimpin rapat, salah satu aktifitas penting yang umum dilakukan dalam sebuah korporasi atau organisasi. Pertemuan yang diadakan secara rutin maupun insidental adalah kesempatan bagi Anda sebagai pemimpin untuk mengkomunikasikan segala perkembangan terbaru dalam perusahaan, memantau perkembangan terakhir dalam kinerja tim Anda dan membahas serta mendiskusikan solusi masalah yang timbul dalam sebuah tim. Secara teori, meeting juga bisa jadi tempat yang melahirkan ide-ide kreatif, sarana untuk menyelesaikan konflik yang tidak bisa dirundingkan melalui email, telepon atau memo, serta efektif untuk menyampaikan sebuah maksud karena arti dan perasaan 55% ditunjukkan dengan ekspresi wajah dan sinyal non-verbal (Penelitian Dr. Albert Mehrabian).


Namun keuntungan dan hal positif tersebut hanya bisa diperoleh jika Anda merencanakan, memimpin dan meninjaklanjuti hasil meeting dengan efektif. Rapat yang tidak dapat memutuskan atau menghasilkan apapun dan berjalan tidak ada ‘juntrungannya’ adalah aktifitas yang membuang-buang waktu dan tidak akan memotivasi anggota tim Anda.


Ada tips yang bisa membantu Anda untuk memimpin dan menindaklanjuti rapat dengan efektif agar maksud dan tujuannya bisa tercapai :

1. Undang karyawan yang benar-benar berkepentingan. Pastikan setiap peserta adalah karyawan yang pekerjaannya memiliki kaitan dengan tujuan dan agenda meeting.

2. Informasikan agenda meeting. Saat mengundang anggota tim, sampaikan dengan jelas agenda rapat tersebut agar mereka bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dengan demikian peserta sudah siap dengan materi rapat sehingga waktu yang dihabiskan untuk rapat bisa lebih efektif.

3. Tuliskan di whiteboard atau bacakan agenda pertemuan. Dituliskan memang akan lebih baik karena ada ‘penanda’ yang bisa dilihat semua orang yang mengingatkan Anda dan peserta saat rapat mulai keluar dari rencana awal. Hal ini untuk mengarahkan para peserta dan Anda agar tetap pada ‘jalur’ pembahasan yang benar sepanjang rapat.

4. Buka meeting dengan mengevaluasi goal, pencapaian dan aktivitas yang telah dilakukan selama ini. Hal ini akan mengingatkan kembali setiap anggota tim Anda tentang pencapaian dan ‘janji’ target mereka yang belum dicapai. Puji dan ingatkan mereka yang sudah mencapai target agar mempertahankan kinerja mereka. Secara singkat ingatkan karyawan yang ketinggalan deadline atau target agar lebih memacu kinerja mereka. Jika perlu jadwalkan langsung pertemuan untuk mendiskusikan masalah dan solusinya deadline tersebut.

5. Try to keep it short. Meeting tidak akan jadi efektif bila berlangsung terlalu lama. Karena itulah pentingnya untuk tetap menjaga agar diskusi tetap pada agendanya. Anda tidak harus selalu serius dan memasang wajah ‘tegang’, tapi saat Anda melemparkan candaan, pastikan hal ini tidak berlarut-larut.

6. Libatkan semua orang. Jangan biarkan salah satu dari peserta pertemuan yang Anda pimpin tertidur saking bosannya atau menunggu giliran presentasi sampai terkantuk-kantuk. Encourage diskusi yang hidup dan biarkan setiap peserta mengemukakan pendapatnya tentang informasi, ide atau tanggapan peserta rapat lainnya. Biarkan perbedaan pendapat hadir dalam meeting.

7. Catat setiap ide atau masukan dari setiap peserta rapat di whiteboard. Hal ini akan memberikan kesan bahwa sebagai pimpinan rapat Anda menghargai setiap pendapat para karyawan Anda. Melihat pendapat mereka ditulis di papan dan dilihat orang lain juga akan mendorong peserta lain untuk turut sumbang ide atau saran. Hal ini sangat diharapkan terlebih jika rapat yang Anda pimpin adalah brainstorming yang diharapkan bisa melahirkan ide-ide segar.

8. Jangan lupa siapkan notulensi. Setiap pertemuan di kantor harus dibuatkan notulensi atau minute meeting. Selain berfungsi sebagai dokumentasi, notulensi adalah bukti untuk menindaklanjuti hasil keputusan rapat tersebut di masa yang akan datang. Jaga agar bentuknya singkat dan berorientasi pada hasil yang disepakati oleh peserta rapat, bukan percakapan setiap orang di meeting tersebut.

Remember!
Ruang rapat seringkali menjadi arena Anda melatih kepemimpinan Anda, so setialah.

Chandra Ming (General Manager JobsDB.com)

Job Info , Jobs , Employment

Bookmark and Share


Senin, 05 Juli 2010

Fishing Story

Fishing Story

The Japanese love fresh fish. However, the waters close to Japan have not held many fish for decades. So to feed the Japanese population, fishing boats got bigger and went farther than ever.

The farther the fishermen went, the longer it took to bring in the fish. If the return trip took more than a few days, the fish were not fresh. The Japanese did not like the taste.

To solve this problem, fishing companies installed freezers on their boats. They would catch the fish and freeze them at sea. Freezers allowed the boats to go farther and stay longer.

However, the Japanese could taste the difference between fresh and frozen and they did not like frozen fish. The frozen fish brought a lower price.

So fishing companies installed fish tanks. They would catch the fish and stuff them in the tanks, fin to fin. After a little thrashing around, the fish stopped moving. They were tired and dull, but alive.

Unfortunately, the Japanese could still taste the difference. Because the fish did not move for days, they lost their fresh-fish taste. The Japanese preferred the lively taste of fresh fish, not sluggish fish.

So how did Japanese fishing companies solve this problem? How do they get fresh-tasting fish to Japan? If you were consulting the fish industry, what would you recommend?


Too Much Money

As soon as you reach your goals, such as finding a wonderful mate, starting a successful company, paying off your debts or whatever, you might lose your passion. You don’t need to work so hard so you relax.

You experience the same problem as lottery winners who waste their money, wealthy heirs who never grow up and bored homemakers who get addicted to prescription drugs.

Like the Japanese fish problem, the best solution is simple. It was observed by L. Ron Hubbard in the early 1950's.

"Man thrives, oddly enough, only in the presence of a challenging environment." — L. Ron Hubbard


The Benefits of a Challenge

The more intelligent, persistent and competent you are, the more you enjoy a good problem.

If your challenges are the correct size, and if you are steadily conquering those challenges, you are happy.

You think of your challenges and get energized. You are excited to try new solutions. You have fun.

You are alive!


How Japanese Fish Stay Fresh

To keep the fish tasting fresh, the Japanese fishing companies still put the fish in the tanks. But now they add a small shark to each tank. The shark eats a few fish, but most of the fish arrive in a very lively state.

The fish are challenged.


Recommendations

Instead of avoiding challenges, jump into them. Beat the heck out of them. Enjoy the game.

If your challenges are too large or too numerous, do not give up. Failing makes you tired. Instead, reorganize. Find more determination, more knowledge, more help.

If you have met your goals, set some bigger goals. Once you meet your personal or family needs, move onto goals for your group, the society, even mankind.

Don’t create success and lie in it. You have resources, skills and abilities to make a difference.

Put a shark in your tank and see how far you can really go!


Job Info , Jobs , Career

Bookmark and Share

The Japanese love fresh fish. However, the waters close to Japan have not held many fish for decades. So to feed the Japanese population, fishing boats got bigger and went farther than ever.

The farther the fishermen went, the longer it took to bring in the fish. If the return trip took more than a few days, the fish were not fresh. The Japanese did not like the taste.

To solve this problem, fishing companies installed freezers on their boats. They would catch the fish and freeze them at sea. Freezers allowed the boats to go farther and stay longer.

However, the Japanese could taste the difference between fresh and frozen and they did not like frozen fish. The frozen fish brought a lower price.

So fishing companies installed fish tanks. They would catch the fish and stuff them in the tanks, fin to fin. After a little thrashing around, the fish stopped moving. They were tired and dull, but alive.

Unfortunately, the Japanese could still taste the difference. Because the fish did not move for days, they lost their fresh-fish taste. The Japanese preferred the lively taste of fresh fish, not sluggish fish.

So how did Japanese fishing companies solve this problem? How do they get fresh-tasting fish to Japan? If you were consulting the fish industry, what would you recommend?


Too Much Money

As soon as you reach your goals, such as finding a wonderful mate, starting a successful company, paying off your debts or whatever, you might lose your passion. You don’t need to work so hard so you relax.

You experience the same problem as lottery winners who waste their money, wealthy heirs who never grow up and bored homemakers who get addicted to prescription drugs.

Like the Japanese fish problem, the best solution is simple. It was observed by L. Ron Hubbard in the early 1950's.

"Man thrives, oddly enough, only in the presence of a challenging environment." — L. Ron Hubbard


The Benefits of a Challenge

The more intelligent, persistent and competent you are, the more you enjoy a good problem.

If your challenges are the correct size, and if you are steadily conquering those challenges, you are happy.

You think of your challenges and get energized. You are excited to try new solutions. You have fun.

You are alive!


How Japanese Fish Stay Fresh

To keep the fish tasting fresh, the Japanese fishing companies still put the fish in the tanks. But now they add a small shark to each tank. The shark eats a few fish, but most of the fish arrive in a very lively state.

The fish are challenged.


Recommendations

Instead of avoiding challenges, jump into them. Beat the heck out of them. Enjoy the game.

If your challenges are too large or too numerous, do not give up. Failing makes you tired. Instead, reorganize. Find more determination, more knowledge, more help.

If you have met your goals, set some bigger goals. Once you meet your personal or family needs, move onto goals for your group, the society, even mankind.

Don’t create success and lie in it. You have resources, skills and abilities to make a difference.

Put a shark in your tank and see how far you can really go!


Job Info , Jobs , Career

Bookmark and Share

Jumat, 18 Juni 2010

Jika Anak Buah Anda Lebih Tua

Dinamika dunia kerja yang semakin bergerak cepat, ditambah dengan persaingan yang semakin ketat seringkali jadi faktor yang mendorong percepatan kerja dan karir karyawan. Seringkali ditemui karyawan yang mampu mencapai posisi yang cukup tinggi di usia yang masih relatif muda.

Ditambah lagi dengan adanya perubahan demografik di dunia kerja. Manusia hidup dan bekerja lebih lama karena perubahan ekonomi menuntut mereka untuk terus bekerja dan menunda masa pensiun. Sebuah penelitian di Amerika bahkan memperkirakan bahwa sampai dengan 2012 diperkirakan karyawan yang berusia di atas usia 55 tahun akan mencapai jumlah hampir 20% dari keseluruhan karyawan yang bekerja.


Dalam budaya kita, seorang pemimpin yang lebih muda dari karyawannya harus bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan dari mereka karena terkadang senioritas masih dijunjung tinggi. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar hubungan professional Anda dengan karyawan Anda tetap maksimal dan Anda bias memimpin mereka dengan sebaik-baiknya.

1. Jangan percaya dengan stereotype karena tidak semuanya relevan.
Anda sebagai pemimpin mungkin menilai bahwa karyawan yang lebih tua tidak memiliki keahlian yang update dan malas untuk mempelajari hal-hal yang baru sesuai dengan perkembangan jaman. Namun sesungguhnya banyak dari mereka yang tetap eager dan semangat untuk mempelajari hal-hal baru walaupun posisi mereka sudah "mentok". Senior juga terkenal memiliki segudang pengalaman yang juga berharga karena they are around longer than you.

2. Be humble.
Walaupun Anda lebih muda dan sudah jadi seorang pemimpin, Anda tidak akan bisa bekerja sendiri dan meraih target dengan maksimal tanpa bantuan mereka. Anda juga tidak bisa earn their respect kalau Anda tidak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang rendah hati.

3. Akui adanya perbedaan usia.
Setelah melakukan pertemuan dengan semua anak buah Anda, adakan juga pertemuan dengan bawahan Anda yang perbedaan usianya sangat signifikan dengan Anda. Sampaikan bahwa Anda menyadari ada perbedaan usia yang cukup besar dan mengakui bahwa akan timbul hal-hal yang sedikit tidak nyaman. Namun jangan jadikan ini sebagai halangan untuk berkomunikasi dan bekerja secara profesional. Jelaskan pula bahwa Anda mengharapkan pengalaman dan pandangan karyawan tersebut akan memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan dan kepemimpinan Anda. Jangan sampaikan permintaan maaf, you deserve the position. Anda tidak akan dipercaya sebagai pemimpin jika Anda tidak memiliki kemampuan.

4. Terbuka terhadap saran dan kritikan.
Kelola anak buah Anda dengan rasa percaya diri, namun tetap biarkan mereka menyampaikan aspirasi mereka dan kritis terhadap pekerjaan, lingkungan kerja dan kepemimpinan Anda. Anda tidak harus mempertimbangkan dan melakukan semua saran mereka karena keputusan terakhir toh tetap di tangan Anda.

5. Saling bantu.
Lumrah orang yang lebih tua untuk menceritakan pengalaman mereka dan memberikan sedikit nasihat kepada mereka yang lebih muda. Demikian juga dengan karyawan yang lebih tua dari Anda. Namun Anda sebagai pemimpinnya juga wajib mendorong dan memfasilisasi mereka agar tetap mengupdate ilmunya, mempelajari hal baru yang berkaitan dengan pekerjaan. Mutual learning ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi professional Anda dan anak buah Anda.


Remember! :
Janganlah orang lain menganggap Anda rendah karena Anda muda, tetapi jadilah model yang baik di setiap aspek kehidupan mereka, maka semuanya itu akan hilang ditelan waktu.

Job , Career , Jobs

Secrets You Need To Keep From Friends at Office

Socialize it shall be done in your work. Maintain a good relationship with colleagues not only makes your job so much more smoothly, but also make you more comfortable in doing your job. Friendly environment is one factor that can make an employee eager to complete their responsibilities.

Good relationships with colleagues sometimes can be developed into every a good friend. You spend time with him after work hours, 'chat' about personal matters or on the job. Yet, as intimate as you intimately with colleagues, there are limitations on what can you 'talked about' with them. Among them are as follows:



Your efforts to find a new job. Maybe you're excited when you found a suitable job opportunity or be called for tests and interviews. You want to immediately share stories with people closest to you, including a friend who is an office colleague. However, no matter how much desire, you better hold 'lust' storytelling. It is not impossible this news will be circulated among the management and they start to doubt your loyalty to the company, though you are determined to continue to fulfill your responsibility to find a new job. If you find that you will decide to stay in the company right now, this issue will affect the possibility of promotion that you will receive.



Salaries and allowances amount you receive. Salary is a sensitive issue that should not be discussed with other employees. Even some companies cautioned to any matters relating to the amount of salary, allowances or bonuses are not discussed with other employees. The goal is not arise the atmosphere of unpleasant and unconducive to work because another co-worker's salary envy. HRD has its own assessment to determine the amount of salary. This is sometimes not known to all employees so they feel better able to assess the salary received by them and other employees.


Problems about other coworkers or about your boss. Not all day is sunny day at work. Sometimes you have to get unpleasant treatment from your employer, who brought forward the deadline suddenly or work to be revised on a total of over a member of your team whose job it is incompetent. I think you want to 'explode' moment and express your resentment and anger against a boss or colleague to a friend's office. But be careful with these measures. Discuss colleague or boss behind them will affect less well for you. like you're creating a self image as professionals and employees who do not respect your boss, like finding trouble or trouble maker. It is not impossible they also assume you are inciting to hate the boss or other colleagues. In addition, publicly or openly express dislike you will create an uncomfortable work environment for other employees.



Personal Life. Sometimes complaining can make you feel lighter in the face of problems. But get used to not explore your personal problems to a friend's office. There is no point in telling your love story failure, the amount of your current boyfriend, an argument with husband or boyfriend. Instead you will be judged as someone who can not handle your own problems. Moreover, even if you feel you are close to a friend's office, he may not feel comfortable listening to all your stories and laments.


Chat that is racial. It is no longer its time talking about things related and offensive racial. Particularly in the office. Do not let your campaign is blocked in the future because you never reveal your preferences about racial intolerance of other employees in the office.
Have you ever falsified a letter you sick. Sometimes due to reasons saturated, or bored there are times when you are not eager to work and choose to lie to say that you are sick to the boss. Saturation is the thing that's understandable, but lying and skipping work is not something to be proud of, much less to say to a friend's office.


Indonesia Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Kamis, 17 Juni 2010

Liburan Tanpa Interupsi Pekerjaan

Asyik, liburan sudah tiba! Terbayang di pelupuk mata hamparan pasir putih, ombak yang bergulung pelan, angin pantai yang menghembuskan aroma laut yang menenangkan, begitu indahnya. Tapi seketika lamunan Anda buyar saat seorang staff mengantarkan berkas-berkas pekerjaan ke meja Anda. Aarrrgh, ternyata semuanya hanya khayalan belaka, yang ada dihadapan Anda sekarang justru tumpukan pekerjaan yang harus segera dikerjakan. Meski bulan Juni-Juli ini identik dengan musim liburan, karena bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak, tapi Anda justru terjebak di kantor dengan segudang tugas-tugas. Padahal anak-anak dan keluarga sudah merengek-rengek mengajak liburan bersama. Kalau begini Anda jadi serba salah, liburan stress, tidak liburan lebih stress. Lalu apa yang harus Anda lakukan?


Pilih saja opsi liburan tanpa stress. Nikmati liburan bersama keluarga tanpa harus merasa bersalah karena telah meninggalkan pekerjaan. Anda berhak mendapatkan waktu untuk istirahat dan me-recharge stamina agar tubuh tidak terlalu terforsir. Liburan juga membantu Anda mendekatkan diri kembali dengan keluarga dan bahkan dapat menambah teman-teman baru yang berarti memperluas hubungan sosial Anda. Ketahuilah bahwa kantor Anda akan tetap berjalan bahkan jika Anda tidak ada di sana. Bagaimana cara berlibur dengan tenang tanpa interupsi dari pekerjaan? Berikut tips yang bisa membantu Anda.


1. Timing yang tepat dan aktifitas alternatif.

Meskipun waktu ideal berlibur adalah saat liburan sekolah anak-anak, tapi dengan tuntutan sebagai professional, be flexible with it. Jika load pekerjaan sedang tinggi, tunda-lah waktu libur sampai ketegangan sedikit mereda. Jika Anda mempunyai anak, siapkan sejumlah aktifitas untuk mereka agar tidak cranky karena tidak kemana-mana selama liburan. Ikutkan mereka dalam aktifitas sederhana namun baru dan menarik bagi mereka seperti mengikuti les melukis dengan cat air, membuat kerajinan pottery atau bahkan mengikuti berbagai kegiatan aktifitas klub olah raga yang menarik bagi mereka. Dengan demikian Anda bisa bisa meneruskan proyek dan anak-anak tidak mengeluh.


2. Buat rencana.

Setelah mendapatkan waktu yg tepat, buatlah rencana tentang semua yang berkaitan dengan liburan Anda. Contohnya; jadwal berangkat dan pulang, transportasi, akomodasi selama di tempat berlibur, perlengkapan yang dibutuhkan. Jika Anda berlibur dengan anak-anak, daftar perlengkapan akan semakin panjang dan aktifitas harus direncanakan dengan lebih seksama. Perhitungkan dengan tepat waktu yang dibutuhkan untuk menuju dan kembali dari tempat berlibur. Jangan sampai pulang terlalu mepet dengan waktu masuk kerja Anda, sehingga Anda tidak sempat beristirahat dan menyesuaikan diri dengan rutinitas bekerja. Paling tidak sisihkan jeda waktu sehari berdiam di rumah sebelum Anda kembali kerja.


3. Delegasikan pekerjaan sebelum cuti.

Serahkan sebagian tugas-tugas Anda kepada bawahan atau rekan kerja yang Anda percayai. Adakan briefing agar pengganti Anda tahu apa dan bagaimana tugas-tugas Anda harus dikerjakan. Jika pekerjaan Anda berhubungan dengan klien, informasikan pada mereka bahwa Anda akan pergi berlibur dan sudah menunjuk pengganti untuk mengambil alih tugas Anda selama Anda pergi. Jangan lupa untuk mengatur setting email Anda agar setiap email kerja yang masuk dapat di balas dengan auto email yang menginformasikan bahwa Anda sedang berlibur.


4. Batasi menerima telepon, tinggalkan laptop.

Untuk sementara tinggalkan segala hal atau benda yang akan membuat Anda berhubungan dengan pekerjaan. Tinggalkan laptop di rumah. Batasi pula menerima telepon dari kantor, jika memang Anda tidak bisa mematikan HP Anda sama sekali. Sebelum pergi berlibur sebaiknya Anda memberikan nomor telepon darurat kepada pengganti Anda saja just in case ada masalah tentang pekerjaan yang mendesak hingga liburan Anda harus diinterupsi.


5. Komitmen hanya untuk berlibur.

Lupakan segala urusan kantor dan nikmati waktu liburan Anda. Ada kalanya seseorang tidak bisa menikmati liburannya karena selalu teringat pekerjaan di kantor. Pekerjaan Anda telah ditangani orang lain, jadi tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan.

Liburan pada intinya adalah untuk melepas beban stress dari pekerjaan Anda. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan bahwa tidak pernah mengambil cuti dan berlibur berbahaya bagi kesehatan. Berlibur memiliki efek mengurangi load stress dan membuat Anda melepaskan diri sejenak dari pemicu stress di tempat kerja sehingga Anda bisa kembali bekerja dengan semangat. So, tunggu apa lagi? Rencanakan liburan Anda sekarang juga.


Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Rabu, 16 Juni 2010

Smelly Co Worker, Bagaimana Menghadapinya?

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di kantor gara-gara rekan kerja Anda yang memiliki bau badan yang tidak enak? Setiap kali yang bersangkutan lewat, maka terciumlah bau menyengat yang bisa membuat Anda kehilangan konsentrasi dangag. Euw, jorok! Sungguh tidak menyenangkan bukan?

Parahnya lagi, Anda tidak memiliki keberanian untuk mengatakan langsung kepada rekan tersebut bahwa bau badannya mengganggu lingkungan sekitarnya. Terlebih lagi kita hidup dengan budaya yang serba sungkan. Rasa-rasanya tidak sampai hati untuk mengatakan pada yang bersangkutan bahwa ia perlu lebih memperhatikan kebersihan tubuhnya agarbody odor (BO) nya tidak memusingkan ‘tetangga’ kubikelnya di kantor.

Dilain pihak, Anda tentu saja tidak bisa terus-menerus membiarkan konsentrasi Anda dan rekan lainnya terganggu. Bukan tidak mungkin interupsi yang berkelanjutan seperti ini akan mempengaruhi produktifitas Anda dan rekan kerja lainya.

Mungkin selama ini Anda dan rekan sudah sering memberikan hint atau sindiran tentang BO sang karyawan bau. Namun seringkali karyawan tersebut tidak menyadari bahwa ia memiliki masalah bau badan. Sehingga sebanyak apapun hint yang Anda berikan, tanpa pembicaraan langsung ke masalah tersebut, ia tidak akan menyadari masalah yang ia sebabkan.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi masalah ini :

  1. Pastikan lagi bahwa bukan Anda sumber bau tersebut dan bukan hanya Anda yang merasakan gangguan tersebut. Dengan halus tanyakan pada rekan kerja lainnya apakah mereka juga merasakan hal yang sama dan merasa terganggu. Jika ternyata tidak ada konfirmasi dari yang lain, maka bisa saja sumber BO tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Anda. Kalau sudah begini, sudah saatnya Anda intropeksi diri; apakah Anda sudah cukup menjaga kebersihan tubuh dan pakaian Anda? Sudahkah Anda mempertimbangkan untuk mengganti anti-perspirant yang digunakan selama ini? Apakah makanan Anda selama ini adalah jenis yang memicu timbulnya BO?
  2. Sampaikan kepada pemimpin. Jika Anda merasa terlalu sungkan untuk menyampaikan masalah ini langsung kepada yangkaryawan tersebut, atau Anda tidak terlalu dekat secara personal, sampaikan hal ini sebagai masalah yang mengganggu konsentrasi kerja Anda kepada atasan Anda. Segala hal yang bisa menimbulkan gangguan terhadap kinerja kerja Anda, diluar masalah yang disebabkan Anda pribadi, adalah tanggung jawab pemimpin Anda.
  3. Jika Anda adalah pemimpin karyawan tersebut, sampaikan masalah ini dengan bijaksana. Ajaklah dia untuk berbicara di dalam ruangan Anda jauh dari karyawan lain. Dengan nada suara yang santai sampaikan dengan singkat masalah BO ini. Dengan tetap menunjukkan simpati, sampaikan dengan jelas dan hindari menggunakan berbagai perumpamaan. Sampaikan dengan jelas harapan Anda terhadap karyawan tersebut, bahwa BO nya telah mengganggu kosentrasi kerja karyawan lain dan membuat mereka enggan untuk bekerja sama dengan dia. Sadarilah bahwa ada beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan body odor, seperti hyperhidrosis bahkan diabetes. Jika inilah yang menyebabkan gangguan tersebut, maka tunjukkan simpati Anda dan sarankan karyawan tersebut untuk melanjutkan pengobatannya dengan serius.
  4. Save his/her face. Jika ia berkelit dengan berbagai alasan, maka terimalah alasan tersebut, namun tetap komunikasikan masalah ini dengan jelas. Biasanya mereka tidak ingin malu atau kehilangan muka dihadapan Anda sehingga menggunakan berbagai alasan untuk ‘melegimitasi’ BO mengganggu tersebut.

Indonesia Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Selasa, 15 Juni 2010

Memulai Karier Dari Awal Lagi

Walaupun sudah bekerja cukup lama, dengan posisi yang baik dan penghasilan yang lebih dari cukup, pernahkah Anda berpikir bahwa sesungguhnya Job ini bukan job yang benar-benar ingin Anda lakukan? Terkadang muncul perasaan tidak puas, ingin mencoba sesuatu yang baru, hal yang benar-benar Anda minati. Mengikuti munculnya perasaan tersebut, Anda juga merasakan gejala lain yang seperti mulai melihat dan memfokuskan hanya pada hal-hal negatif dari pekerjaan, padahal banyak hal positif lain yang bisa Anda nikmati. Anda juga mulai melihat pekerjaan sebagai rutinitas yang membosankan, walaupun sesungguhnya posisi Anda yang cukup signifikan dalam perusahaan yang terus memberikan berbagai tantangan dalam tanggung jawab.

Saat inilah muncul keinginan untuk memulai pekerjaan dan karier baru. Terlebih lagi jika Anda sudah mengetahui passion atau panggilan jiwa Anda dalam bekerja, akan semakin besarlah keinginan untuk meninggalkan pekerjaan yang ‘mengeringkan’ jiwa Anda dan beralih ke hal yang benar-benar merupakan passion hidup Anda. Sebelum Anda menyerahkan tanggung jawab Anda sebagai seorang pemimpin dan memulai pekerjaan yang baru, ada beberapa hal yang harus jadi perhatian.


  1. Think and rethink.
    Sebelum meninggalkan semua yang telah dibangun dari awal untuk sesuatu yang belum tentu 100% cocok dengan Anda, pikirkan kembali hal yang membuat Anda tidak suka dari job sekarang. Mungkinkah yang Anda tidak sukai adalah perusahaannya bukan pekerjaannya? Apakah Anda bosan dengan rutinitas dan perlu stimulasi lagi? Mungkinkah Anda hanya butuh istirahat sejenak? Apakah hal tersebut sesungguhnya bisa diatasi dengan mudah? Pikirkan kemungkinan bahwa Anda juga akan merasakan hal yang sama jika Anda bekerja di tempat yang baru.

  2. Analisa kelebihan.
    Bertahun-tahun bekerja dalam satu bidang tertentu yang bisa saja menjadikan Anda ahli. Namun memasuki bidang baru, walaupun memang disukai belum tentu membuat Anda memiliki tingkat keterampilan yang sama. Analisa lagi apakah passion dan kelebihan Anda cukup untuk memulai karier baru dengan konsekuensinya, terlebih lagi jika Anda nantinya harus memulai dari awal lagi, sementara posisi yang dipegang selama ini adalah pemimpin. Analisa juga apakah Anda memiliki transferable skill atau keterampilan yang selama ini dibutuhkan dalam pekerjaan yang lama, juga akan berguna di karier Anda yang akan datang. Contohnya keterampilan manajemen atau keahlian mengoperasikan software tertentu.

  3. Be knowledgeable.
    Hasrat yang besar dan kecintaan akan bidang tertentu harus diimbangi dengan kesediaan Anda untuk memperbaharui keterampilan yang dibutuhkan. Bekali diri Anda dengan pengetahuan, tip dan trik agar Anda mampu keep up dengan perkembangan bidang tersebut. Dapatkan informasi sebesar-besarnya termasuk resiko, persaingan dan segala konsekuensi yang akan Anda tanggung. Jika Anda ingin mengejar impian sebagai fashion designer yang memiliki butik sendiri, update diri dengan tren yang ada, tekhnik dan pemasarannya. Begitu juga dengan bidang lain.

  4. Manfaatkan jejaring Anda.
    Salah satu cara untuk memfasilisasi usaha Anda terjun ke bidang baru adalah dengan mendapatkan informasi dari jejaring Anda. Cara ini mungkin terkesan informal tapi seringkali ada hal-hal kecil yang harus Anda ketahui dari mereka yang telah lama berkecimpung di bidang tersebut. Seperti Jika Anda mengimpikan jadi penulis, ada etika tak tertulis bagaimana mendekati editor atau berapa lama Anda harus menunggu sebelum meminta konfirmasi tentang naskah Anda dari mereka.

  5. Siapkan pengganti.
    Sejalan dengan usaha Anda untuk membekali diri dengan hal yang dibutuhkan untuk berganti karier, mulailah untuk berburu pengganti yang potensial. Ini memang sesungguhnya tanggung jawab HRD, namun sebisa mungkin Anda juga turut ambil bagian dalam memilih. Jangan tinggalkan tim Anda tanpa pemimpin yang kompeten. Terlebih lagi jika Anda memimpin tim yang selama ini menganggap Anda sebagai role model yang mengayomi. Minimize rasa kehilangan dan muluskan masa transisi mereka dengan pemimpin baru yang Anda yakini kompeten dan berkualitas. Jangan putuskan hubungan dengan mereka dan ingatlah bahwa bisa saja dimasa depan mereka memegang peranan penting dalam karier baru Anda nanti.

  6. Remember!
    Anda mungkin tidak bahagia di tempat kerja Anda sekarang, tetapi belum tentu juga Anda akan merasa bahagia di tempat kerja Anda yang baru. Do your best!


Job indonesia , Jobs , Career

Bookmark and Share

Jumat, 11 Juni 2010

Bisakah Anda menjadi seorang workaholic yang sehat?

Menjadi seorang workaholic sangat melelahkan baik fisik maupun mental. Selalu bekerja dan bekerja membuat tubuh dan mental selalu aktif walaupun tanpa disadari Anda membutuhkan istirahat. Stress, depresi, tekanan darah yang seringkali melonjak adalah beberapa efek buruk pada kesehatan yang akan dirasakan seorang workaholic.

Selain itu kehidupan sosial yang parah, keluarga yang terabaikan adalah dampak dari kebiasaan gila kerja. Sebuah penelitian bahkan membuktikan bahwa pasangan yang workaholic memiliki kemungkinan untuk bercerai lebih besar dari mereka yang bisa menyeimbangkan kehidupan mereka.

Jika Anda adalah workaholic namun tetap ingin menjalani hidup yang sehat dan seimbang, berikut ini adalah tips-tips-nya:


1. Ubah prioritas hidup


Yakinkan diri Anda bahwa ada yang lebih penting selain pekerjaan, salah satunya kesehatan Anda, keluarga dan teman-teman. Apakah Anda rela melewatkan peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga Anda hanya demi sebuah pekerjaan? Apakah Anda tahu dampak buruk bagi kesehatan karena kebiasaan workaholic Anda? Apakah Anda bisa menikmati hasil kerja dengan maksimal jika nantinya Anda menderita sakit berat akibat stress? Pertanyaan - pertanyaan tersebut diharapkan bisa membuat Anda lebih bijak menyusun prioritas.


2. Benahi manajemen kerja Anda.


Setiap karyawan telah memiliki job desc-nya masing-masing. Kerjakanlah apa yang menjadi tugas Anda saja, tidak perlu sungkan untuk menolak pekerjaan tambahan lain jika Anda merasa tidak sanggup atau dirasa menganggu pekerjaan pokok Anda. Atur semuanya berdasarkan skala prioritas supaya Anda lebih fokus dalam mengerjakannya. Benahi juga jam kerja Anda. Workaholic selalu merasa 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tubuh juga perlu beristirahat, gunakanlah hari libur Sabtu atau Minggu untuk benar-benar lepas dari pekerjaan. Tekankan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan bekerja untuk hari itu. Jauhkan diri Anda dari komputer atau alat kerja Anda yang lain.


3. Asupan gizi yang seimbang dan menyehatkan


Berpikir dan bekerja membutuhkan energi yang besar. Imbangi tenaga yang dikeluarkan dengan asupan makanan yang cukup dengan kebutuhan tubuh Anda dan seimbang. Hindari fast food walaupun ini adalah pilihan termudah bagi para workaholic. Perbanyaklah minum air putih untuk mencegah dehidrasi. Kopi atau minuman berkafein lainnya memang dapat mempertahankan konsentrasi dan menjaga stamina, terutama saat lembur, namun ingatlah bahwa kafein yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah, perasaan cemas, gelisah.


4. Olahraga ringan dan cukup tidur.


Sekedar stretching ringan seperti menggerakkan kepala atau merenggangkan otot dapat membantu tubuh menjadi rileks. Belilah alat-alat olahraga yang dapat digunakan sembari bekerja yang banyak dijual di pasaran. Kemudian luangkan waktu untuk tidur. Penelitian menyebutkan bahwa tidur siang selama 20-30 menit dapat menjaga Anda tetap terjaga pada malam hari dan mengembalikan energi.

Ada suatu ungkapan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Pun demikian dengan bekerja. Anda harus tahu batasannya karena tubuh Anda memiliki biology time-nya sendiri. Menjaga diri tetap sehat sekalipun Anda seorang workaholic sangatlah penting karena kesehatan itu mahal harganya. Kerja keras Anda akan menjadi sia-sia jika akhirnya Anda sendiri tidak dapat menikmatinya karena sakit akibat overworked. Ingatlah bahwa work hard is good, but work smart is better. So be smart with your work.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job

Bookmark and Share

Kamis, 10 Juni 2010

Five Rules for Office Romances

How to Keep an Office Romance from Derailing Your Career

By Dawn Rosenberg McKay, About.com


Office romances have been around for as long as offices (or other workplaces). While an office romance can be great for your social life, it can be like a train wreck as far as your career is concerned. Although you know you should avoid an office romance sometimes your judgement goes awry. If you find yourself in a relationship with a co-worker, a subordinate or your boss, these rules may help minimize the impact on your career.


1. Be Discreet: With social networking sites and tv reality shows encouraging us to let the world into our most private moments, discretion may be a dying art. When it comes to office romance, it is much better to keep your relationship private than it is to flaunt it. This doesn't mean you should lie about it. Just don't put it out there for everyone to watch unfold.

2. Set Rules and Have an Exit Plan: Make sure you and your partner are on the same page. Decide how you will proceed with your relationship as far as the office is concerned. Also figure out how you will handle it if your relationship doesn't succeed.

3. Be Honest With Each Other: Honesty is, of course, important in any relationship, but dishonesty can add to the bitterness that often accompanies the end of a romance. You don't want to end on bad terms, particularly because you will have to see each other regularly.

4. Don't Let Your Feelings Get in the Way of Your Job: This may take quite a bit of effort, but if your feelings for your partner influence how you do your job, you may find yourself looking for a new one (job and partner).

5. Stay Within the Law: Sexual harassment suits are unpleasant for everyone involved. Be aware of what constitutes sexual harassment and avoid doing anything that can invite those accusations.


Job vacancy

Rabu, 09 Juni 2010

Know More System Analyst

One of the work categories in the field of informatics technology that many companies required is in fields Application Specialist. The position under this category is still become the target of companies to support the smooth operation and their production. Generally, companies need professionals who can make the application system in accordance with company requirements.


In the category of application specialist positions such as programmer analyst system is still occupying the top IT job based on the analysis carried out by JobsDB.com Indonesia. Of the approximately 800 jobs of which aired in the IT field JobsDB.com every day, almost 45% of it is the work under this category.


System analysts and programmers have relevance because programmer who later poured the system analysis into programming languages. A career of a professional analyst system also often originated from the programmer.


High demand for the positions of the IT sector makes more and more workers are racing to pursue a career in this field. If you are one of the hundreds of job seekers who want a career as a systems analyst or programmer, are you already know and understand the responsibilities and qualifications of this job?


Discussion this time is to know more about professional analyst system. Analyst system is IT professionals who have the ability to analyze a system used by a company in support of operational and production. The analysis was done by identifying and studying problems that arise from a system to then formulate a solution that is consistent with the interests of business and information technology.


Many other names mentioned analyst system, for example the system designers, system consultants, system engineers.


What are the duties and responsibilities of a systems analyst? Broadly speaking, an analyst system is not only responsible for the field of technology alone, but more broadly in the field of applications overall.


A good analyst system must be able to follow the following workflow:

  • Understand the existing system
  • Identify the problem
  • Analyze problems
  • Formulate a solution / solutions

The systems analyst does not work alone. He will be associated not only with fellow analyst system, but also with programmers, users and managers.

What are the ideal qualifications of a system analyst? If you are interested in becoming a professional analyst system, here are the knowledge and skills that you should have:

  • Knowledge and skills in computer technology, programming languages and data processing techniques, including skills in using tools and techniques for developing software applications and hardware, data communications technologies, programming languages and operating systems.
  • Knowledge of the user / or business in general. You need knowledge of company business, at least in general, so you can communicate with the user who will run this system. Business knowledge which should have is the knowledge of company accounting, management, marketing, personnel, and company policies.
  • Knowledge and skills related to qualitative methods such as linear programming, dynamic programming, simulation and others.
  • Ability to analyze problems and provide solutions. Analyst system in general will analyze, sort out and describe the complex problems posed by the system used by the company. This capability is important to get a solution to the problem.
  • Communication skills (verbal and written) and ability to build and maintain relationships. Like professionals, communication skills are essential skills for dealing with many parties, especially users, in delivering presentations, creating reports, etc..

For your information, the salary of a systems analyst in Indonesia ranges from Rp. 3.2 million - Rp. 11 million.


Job Vacancy , Employment , Indonesia Job

Lebih Mengenal Head Hunter

Pernahkah Anda mendengar istilah head hunter? Jika belum, head hunter adalah istilah yang digun

akan untuk menyebut para konsultan yang jasanya dipercaya oleh para perusahaan untuk mencari atau hunt para top professional atau senior executive dengan keahlian spesifik dan khusus, yang tidak bisa atau jarang ditemukan dengan iklan lowongan kerja biasa.

Dikalangan professional atau high level executive, ada kebanggaan tersendiri jika mereka sudah dihubungi oleh head hunter. Hal tersebut menandakan bahwa reputasi, kredibilitas dan prestasi kerja mereka dikenali dan dibutuhkan. Karena itulah telepon dari head hunter sering kali diidentikkan dengan kabar gembira bagi para eksekutif karena besar kemungkinan mereka akan ditawari pekerjaan yang mungkin saja lebih baik dan memberikan kompensasi lebih.


Bagaimana cara head hunter mencari kandidat ?


Setelah mendapatkan kualifikasi spesifik mengenai posisi yang dibutuhkan dari HRD perusahaan, head hunter akan mulai 'berburu' kandidat yang sesuai. Memang umumnya sebuah perusahaan executive search sudah membangun network yang cukup kuat sebelum mereka mulai menerima tugas dari klien, akan tetapi masih ada kemungkinan tidak memiliki database kandidat yang cocok. Beragam cara bisa dilakukan seorang konsultan untuk riset kandidat. Kreatifitas adalah kuncinya. Memasang iklan di media cetak terkemuka atau di website yang sudah ternama bisa jadi salah satu pilihan. Sama halnya dengan referensi yang seringkali jadi sumber informasi kandidat yang efektif. Perusahaan kompetitor bahkan bisa jadi sumber informasi database yang besar bagi para head hunter. Bukan tidak mungkin kandidat yang awalnya bekerja di perusahaan kompetitor akhirnya pindah ke perusahaan saingannya karena tawaran yang lebih menggiurkan. Inilah yang membuat head hunter sering dujuluki 'pembajak'.


Bagaimana cara kerja head hunter ?

Tanggung jawab head hunter tidak berhenti walaupun sudah mendapatkan kandidat yang sesuai dengan kualifikasi yang disyaratkan perusahaan. Interview sebagai seleksi awal masih harus dilakukan untuk memastikan bahwa kandidat memiliki kepribadian dan karakter yang sesuai dengan posisi tersebut. Setelah head hunter memastikan bahwa kandidat mereka qualified, barulah nama dan CV kandidat tersebut dikirimkan ke klien. Selanjutnya head hunter akan mengatur jadwal interview potential candidate dengan klien dan menindaklanjuti hasil wawancara tersebut.


Apa yang dibutuhkan untuk menjadi head hunter yang ideal ?

Tidak ada gelar akademis khusus yang harus dimiliki seseorang untuk terjun ke profesi ini. Yang pasti, seorang konsultan executive search harus memiliki communication skills yang baik, memiliki network atau jejaring yang luas, mampu menyelami karakter, menggali kompetensi dan keahlian seorang kandidat untuk melakukan penyeleksian awal. Konsultan juga harus memiliki kemampuan riset yang baik. Seringkali klien berasal dari bidang yang tidak terlalu popular sehingga ia dituntut untuk bisa mendalami suatu bidang tertentu melalui riset. Riset bisa dilakukan melalui Internet, referensi, bahkan terjun langsung ke 'lapangan'.


Tantangan di bidang ini

Seringkali kandidat yang di "approach" oleh head hunter tidak pernah mendengar istilah head hunter atau executive search. Beberapa dari mereka bahkan curiga saat dihubungi. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan head hunter dan kesempatan baik yang dibawa oleh para konsultan kepada para professional. Sama halnya dengan kepercayaan dari klien. Tidak semua HRD perusahaan familiar dengan jasa head hunter dan seringkali tidak mengerti mengapa mereka harus menggunakan jasa mereka. "Saat berusaha mendekati kandidat yang potensial, terutama mereka yang sudah berada di level top executive, seperti CEO, CFO, seringkali kami mengalami kesulitan untuk 'menembus' birokrasi yang panjang sebelum akhirnya bisa bicara langsung" demikian ujar Helny Widiastuti, Manager Prestige Consulting, perusahaan yang juga bergerak di bidang ini.


Bagaimana prospek profesi ini dimasa yang akan datang ?

Dengan proses rekrutmen untuk senior atau top executive yang bisa berlangsung panjang dan seringkali rumit, kehadiran head hunter atau executive search sangat membantu. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang operasionalnya bergerak dengan dinamis, head hunter dengan kekuatan data base, jejaring dan research skill membantu mendapatkan kandidat dengan ketepatan hingga 90%, dalam waktu yang cukup singkat. "Di masa yang akan datang akan makin banyak perusahaan yang menyadari bahwa untuk mendapatkan kandidat top executive yang berkualitas mereka tidak harus menjalani seluruh proses rekrutmen yang seringkali panjang. Head hunter bisa membantu menghemat waktu, tenaga dan effort dengan hasil yang baik" lanjut Helny lebih jauh lagi.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job